Bacaan Alkitab:
Hagai 1 : 1-11
Hagai 1 : 1 – 4
(1) Pada
tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada
hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan
nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada
Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya:
(2) "Beginilah
firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba
waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!"
(3) Maka
datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya:
(4) "Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang
dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Latar belakang:
- Nabi Hagai,
dalam penulisannya mencantumkan waktu sehingga pembaca mengetahui
kapan terjadinya. Pada ayat 1 diberitahukan waktunya adalah tahun
ke-2 zaman raja Darius, kurang lebih itu adalah 15 tahun setelah
bangsa Israel kembali dari pembuangan.
- Latar belakang
kondisi saat itu, beberapa waktu yang lalu Babel datang untuk
menghancurkan Bait Suci. Dan setelah Bangsa Israel keluar dari
pembuangan, Tuhan memerintahkan kepada Bangsa Israel untuk membangun
kembali Bait Suci. Mengapa Allah menghendaki bangsa Israel untuk
membangun Bait Suci? Karena Allah memilih untuk berdiam di tengah
umat-Nya, Dia mau berelasi dengan umat-Nya, Allah rindu hadir di
tengah-tengah umat-Nya.
- Bait Suci yang
ada saat itu merupakan reruntuhan.
- Di Kitab Ezra
dikatakan bangsa Israel hendak membangun kembali Bait Suci namun
tertunda sampai 15 tahun.
- Secara
perlahan, misi bangsa Israel bergeser dari misi yang Allah tetapkan
untuk membangun Bait Suci. Secara perlahan mereka mulai merasa wajar
dan terbiasa untuk beribadah di reruntuhan Bait Suci. Sama halnya
dengna dunia saat ini, dunia terus menarik kita (secara perlahan) jauh dari Tuhan sampai
akhirnya membuat indera rohani kita tumpul dan menjauhkan kita dari
misi yang Allah tetapkan dalam hidup kita.
Cuplikan dari film
“The Lighting Thief” menggambarkan:
Ada tiga karakter
(salah satunya Percy Jackson) di sebuah kasino di Las Vegas. Para
pramusaji menawarkan snack “lotus flower”. Ketiga orang tersebut
awalnya ragu dan akhirnya mengambil “lotus flower” tersebut dan
memakannya. Setelah memakannya, seperti ada kenikmatan dan perubahan
cara pandang setelah memakan “lotus flower” tersebut. Mereka
terus mengambil dan memakan lotus flower yang terus ditawarkan oleh
pramusaji, mereka menari, main judi, sampai lupa diri. Waktu itu ada
suara yang berbicara pada Percy mengatakan untuk dia stop memakan
“lotus flower” tersebut , lihat sekeliling, bangun dan sadar.
Percy mulai mengatakan tidak terhadap “lotus flower” yang
ditawarkan. Dia melihat sekeliling dan dia mendatangi 1 orang yang
masih mengira bahwa itu adalah tahun 1970-an. Percy mulai sadar dan
terus menolak “lotus flower” yang ditawarkan.
Pertanyaan:
1.
Apa misi yang Allah tetapkan dalam hidupmu?
2. Apa “lotus
flower” dalam dirimu? Kompromi apa yang terus kita jalani atas dosa
kita?
“Lotus Flower”
menggambarkan sesuatu yang enak tapi salah. Contohnya seperti
menikmati relasi dengan lawan jenis padahal itu salah, menikmati
setiap pujian, menikmati pronografi, kesenangan hidup (makan-makan,
jalan-jalan), dan lain-lain. “Lotus flower” ini membuat kita lupa
akan misi yang Tuhan tetapkan dalam diri kita.
Point:
1. (2) "Beginilah
firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba
waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!"
Pada ayat ke-2
dikatakan bahwa menurut akal bangsa Israel, belum waktunya untuk
membangun kembali Bait Suci. Padalah Bait Suci adalah PRIORITAS
Allah. Mereka tidak percaya kepada Allah bahwa Allah dapat menolong
mereka.
Sama halnya
dengan kita yang kompromi akan dosa / terus menikmati “lotus
flower” kita. Kita tidak percaya bahwa Allah mampu menolong kita.
Kita tidak lagi minta kuasa kepada Allah untuk mematahkan dosa lagi.
2. (4) "Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang
dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Hati yang terbagi dua. Pada ayat ke-4 disebut “dipapani dengan
baik” berarti kondisi rumah itu sudah sangat baik. Bangsa Israel
datang ke Bait Allah yang runtuh, tapi rumah mereka dipapani dengan
baik, sama halnya seperti berkata “Engkau adalah Rajaku,” tetapi
kenyataannya yang bertahta dalam hati kita adalah diri kita sendiri.
Sama halnya dengan Allah dan Mamon, kita tidak bisa mengikuti
keduanya secara bersamaan, seperti istilah “berdiri di atas dua
perahu.” Semakin lama kita akan ditarik menjauh dari Allah.
Hagai 1 :
5 – 11
Point:
1. (6) Kamu
menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan,
tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas;
kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang
bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam
pundi-pundi yang berlobang!”
(7) Beginilah
firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!
Pada ayat yang ke-6, Tuhan sengaja memberikan kondisi yang tidak
nyaman untuk membangunkan Bangsa Israel. Wake up call from The Lord.
Apa yang Tuhan tetapkan dalam diri kita?
2. (8) Jadi
naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku
akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ,
firman TUHAN.
Lakukan! Setelah kita
memperhatikan keadaan kita, lakukan misi yang Allah tetapkan dalam
diri kita.
Teladan:
Yesus Kristus:
Yesus fokus pada misi Allah dan menolat setiap “lotus flower”
yang Iblis tawarkan.
Kiranya setiap kita disadarkan akan misi
yang sudah Allah tetapkan dalam diri setiap kita dan Tuhan yang
mampukan untuk kita melalukan misi Allah tersebut.
Pujian "A Pure Heart", semoga menjadi doa dan kerinduan kita untuk punya hati yang murni yang mau terus ikut Tuhan.
Link: https://www.youtube.com/watch?v=vwWjg_HeMso
Lirik:
A Pure Heart
Chorus
A pure heart, that's what I long for
A heart that follows hard after Thee
A pure heart, that's what I long for
A heart that follows hard after Thee
Verse
A heart that hides Your Word
So that sin will not come in
A heart that's undivided
But one You rule and reign
A heart that beats compassion
That pleases You, my Lord
A sweet aroma of worship
That rises to Your throne
"All Scripture is God-breathed and is useful for teaching, rebuking, correcting and training in righteousness, so that the servant of God may be thoroughly equipped for every good work." 2 Timothy 3:16-17
Sunday, May 28, 2017
Thursday, February 2, 2017
Sunday Service: "Mari Ikutlah Aku!" - Pdt. Yakub Susabda - 15012017
Markus 1:16-20
"Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia."
Pada saat kita memikirkan kata-kata "Come, and follow me", ini adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan kepada Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, dan mereka langsung mengikut Yesus. Dan nantinya kepada Matius si pemungut cukai yang juga langsung mengikutNya.
Pertanyaannya adalah apakah Yesus mengatakan hal yang sama kepada Yudas Iskariot?
Apa sebetulnya makna dari undangan atau tawaran Yesus?
Ketika memikirkan tentang tawaran Yesus, kita perlu melihat siapakah Dia yang menawarkan?
Dengan mudah kita dapat menjawab Dia Yesus, Anak Allah. Tapi kita harus mengerti Tuhan adalah Allah yang maha adil dan kita sebagai manusia berdosa sudah sepatutnya kita binasa. Namun Tuhan juga adalah Allah yang penuh kasih dan Dia tahu manusia tidak mampu menerima hukuman dosa, sehingga Dia memberikan DiriNya sendiri. Allah tidak mempunyai anak, Anak adalah istilah Kuasa Allah yang pertama kali keluar dari Diri Allah, "The Firstborn of God", yang diperanakan.
Kolose 1:15
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,"
Dengan Firman Tuhan menciptakan langit dan bumi, dan dengan kuasa yang seperti itulah Tuhan berinkarnasi menjadi manusia, untuk mengambil posisi kita yang berdosa dan harus menerima hukuman Allah. Di dalam Filipi 2 ditulis bahwa Yesus inkarnasi daripada Firman harus menjadi manusia sejati. Demikian juga disebutkan dalam Ibrani 4, Dia seperti kita harus melewati segala macam pencobaan sebagai manusia yang bisa gagal, tapi Dia setia sampai mati. Maka Allah membangkitkan dan mengangkat Dia sebagai Tuhan dan Raja di atas segala raja. Tuhan seperti inilah yang berhak mengatakan "Come, and follow me".
Apakah betul semua yang dikatakan Yesus sebagai Tuhan pasti dituruti manusia?
Yesaya 55:11
"Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
> Bila sesuai dengan firman tersebut maka seharusnya pasti berhasil, namun apakah demikian? Apakah kasih Tuhan yang hadir didalam hidup kita itu efektif dalam mendapatkan kita untuk mengikut Dia? Dan jawaban ini harus kita lihat dari beberapa sudut.
1. Ajakan Yesus untuk mengikut Dia diberikan kepada siapa saja? Kita percaya keselamatan itu 100% anugerah. Tetapi siapa yang benar-benar bisa tahu kalau dirinya mendapat anugerah tersebut? Tertulis di dalam 1 Timotius 2 (ayat 4) dan 2 Petrus 3 (ayat 9), Allah mengatakan bahwa Dia menginginkan SEMUA orang diselamatkan, karena Allah penuh kasih. Allah yang beranugerah menginginkan semua selamat dan kita harus menemukan titik temunya agar tidak salah tafsir.
Dalam Matius 19 ada seorang muda yang sangat baik moral dan spiritualnya yang merindukan jaminan keselamatan. Yesus sangat mengasihi pemuda itu dan memberi tahu Yesus apa yang harus dilakukan sang pemuda agar bisa sampai kepada titik temu tersebut, tetapi pemuda itu tidak dapat meninggalkan hartanya dan pergi. Dalam konteks inilah Yesus memberikan konklusi bahwa alangkah sulitnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Dengan kekuatan kita sendiri akan mustahil, tapi tidak bagi Allah. Pemuda itu tidak dapat melihat permintaan Tuhan melalui sudut pandang Allah dengan rendah hati, bahwa keselamatan itu adalah anugerah, dan dia sebetulnya hanya butuh memohon belas kasihan pertolongan Tuhan.
Respon iman kita terbagi menjadi 7 fase:
Fase Iman 0-3 dapat ditemukan dalam Lukas 9. Dan di saat itu ada orang-orang yang berkata akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi (ayat 57-62). Yesus menghadapkan orang tersebut dengan realita kendala-kendala dalam mengikut Yesus dan Yesus tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka. Memang jawaban Yesus pada respon mereka sangat frontal dan aneh namun Yesus mencari orang yang ingin mengikut Dia dengan sungguh-sungguh untuk mengenal Dia. Berhati-hatilah sebab iman kita lah yang ingin dilihat Kristus ketika kita mengikut Dia.
"Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia."
Pada saat kita memikirkan kata-kata "Come, and follow me", ini adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan kepada Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, dan mereka langsung mengikut Yesus. Dan nantinya kepada Matius si pemungut cukai yang juga langsung mengikutNya.
Pertanyaannya adalah apakah Yesus mengatakan hal yang sama kepada Yudas Iskariot?
Apa sebetulnya makna dari undangan atau tawaran Yesus?
Ketika memikirkan tentang tawaran Yesus, kita perlu melihat siapakah Dia yang menawarkan?
Dengan mudah kita dapat menjawab Dia Yesus, Anak Allah. Tapi kita harus mengerti Tuhan adalah Allah yang maha adil dan kita sebagai manusia berdosa sudah sepatutnya kita binasa. Namun Tuhan juga adalah Allah yang penuh kasih dan Dia tahu manusia tidak mampu menerima hukuman dosa, sehingga Dia memberikan DiriNya sendiri. Allah tidak mempunyai anak, Anak adalah istilah Kuasa Allah yang pertama kali keluar dari Diri Allah, "The Firstborn of God", yang diperanakan.
Kolose 1:15
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,"
Dengan Firman Tuhan menciptakan langit dan bumi, dan dengan kuasa yang seperti itulah Tuhan berinkarnasi menjadi manusia, untuk mengambil posisi kita yang berdosa dan harus menerima hukuman Allah. Di dalam Filipi 2 ditulis bahwa Yesus inkarnasi daripada Firman harus menjadi manusia sejati. Demikian juga disebutkan dalam Ibrani 4, Dia seperti kita harus melewati segala macam pencobaan sebagai manusia yang bisa gagal, tapi Dia setia sampai mati. Maka Allah membangkitkan dan mengangkat Dia sebagai Tuhan dan Raja di atas segala raja. Tuhan seperti inilah yang berhak mengatakan "Come, and follow me".
Apakah betul semua yang dikatakan Yesus sebagai Tuhan pasti dituruti manusia?
Yesaya 55:11
"Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
> Bila sesuai dengan firman tersebut maka seharusnya pasti berhasil, namun apakah demikian? Apakah kasih Tuhan yang hadir didalam hidup kita itu efektif dalam mendapatkan kita untuk mengikut Dia? Dan jawaban ini harus kita lihat dari beberapa sudut.
1. Ajakan Yesus untuk mengikut Dia diberikan kepada siapa saja? Kita percaya keselamatan itu 100% anugerah. Tetapi siapa yang benar-benar bisa tahu kalau dirinya mendapat anugerah tersebut? Tertulis di dalam 1 Timotius 2 (ayat 4) dan 2 Petrus 3 (ayat 9), Allah mengatakan bahwa Dia menginginkan SEMUA orang diselamatkan, karena Allah penuh kasih. Allah yang beranugerah menginginkan semua selamat dan kita harus menemukan titik temunya agar tidak salah tafsir.
Dalam Matius 19 ada seorang muda yang sangat baik moral dan spiritualnya yang merindukan jaminan keselamatan. Yesus sangat mengasihi pemuda itu dan memberi tahu Yesus apa yang harus dilakukan sang pemuda agar bisa sampai kepada titik temu tersebut, tetapi pemuda itu tidak dapat meninggalkan hartanya dan pergi. Dalam konteks inilah Yesus memberikan konklusi bahwa alangkah sulitnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Dengan kekuatan kita sendiri akan mustahil, tapi tidak bagi Allah. Pemuda itu tidak dapat melihat permintaan Tuhan melalui sudut pandang Allah dengan rendah hati, bahwa keselamatan itu adalah anugerah, dan dia sebetulnya hanya butuh memohon belas kasihan pertolongan Tuhan.
Respon iman kita terbagi menjadi 7 fase:
- Primal or Undifferentiated Faith (0) - iman yang tidak mengerti apa yang di-imani.
- Intuitive-Projective Faith (1) - iman yang didasari oleh gambaran masa kecil dan dibiasakan perasaan senang seseorang dalam sebuah lingkungan (contoh: ke gereja karena orang tua/teman/pasangan), bukan untuk Tuhan.
- Mythic-Literal Faith (2) - tujuannya hanya meminta-minta agar keinginannya dituruti. Isi doanya tidak ada keinginan mengenal Allah. Tidak peduli siapa itu Tuhan yang penting berkatNya.
- Synthetic-Conventional Faith (3) - bisa melafalkan apa yang diajarkan pendeta namun hanya mengikuti saja.
- Individuative-Reflective Faith (4) - iman ketika kita mulai dewasa dan tidak lagi dapat mentolerir perbedaan pandangan dari fase ke-3. Kita mulai menentukan kepercayaan kita pribadi.
- Conjunctive Faith (5) - adanya keterbukaan yang rendah hati pada interpretasi orang lain walaupun tetap teguh pada pandangan sendiri dengan percaya diri, sehingga sadar bahwa kebenaran memiliki multidimensi.
- Universalizing Faith (6) - ini sangat jarang terjadi dan biasanya terjadi pada orang-orang tua yang sudah melewati batas diri dan menemukan kesederhanaan dari sisi lain kerumitan. Iman ini ada pada seseorang yang sudah menemukan jati dirinya ketika dia sudah memperbesar 'lingkar'nya dalam mencari kebenaran.
Fase Iman 0-3 dapat ditemukan dalam Lukas 9. Dan di saat itu ada orang-orang yang berkata akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi (ayat 57-62). Yesus menghadapkan orang tersebut dengan realita kendala-kendala dalam mengikut Yesus dan Yesus tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka. Memang jawaban Yesus pada respon mereka sangat frontal dan aneh namun Yesus mencari orang yang ingin mengikut Dia dengan sungguh-sungguh untuk mengenal Dia. Berhati-hatilah sebab iman kita lah yang ingin dilihat Kristus ketika kita mengikut Dia.
2. Kata-kata Yesus untuk mengikut Dia sebenarnya ditujukan kepada orang-orang yang betul-betul sudah mengerti, mencari, ingin mengenal Tuhan, menyelidiki FirmanNya on a personal level. Yesus mengundang orang-orang yang ingin membangun relasi denganNya secara intim. Yesus mengundang orang-orang yang sudah percaya yang ditempatkan di tengah dunia karena ingin memberikan mereka misi tertentu yaitu sebagai demonstrasi kemenangan Salib Kristus yang sudah hadir di dalam hidup mereka (Yohanes 17).
Kita harus mengerti tujuan Allah akan kehidupan kita karena dalam segala aspek kehidupan Kristus telah berjanji akan bersama-sama kita dan melengkapi kita dengan Firman-Nya. Our life is about discipleship and making His name known. Kita adalah partner Kristus dalam semua pekerjaan kita.
Dengan mengenal Yesus secara pribadi kita akan dihadapkan realita-realita kehidupan Kristen yang tidak mudah dan terkadang tidak masuk akal karena Tuhan akan menguji iman kita. Tuhan akan menjadikan kita visioner. Dia akan hadir dan memberi kuasa dan kekuatan kepada kita apabila kita tetap setia didalam menghadapi macam-macam perbuatan Tuhan yang tidak masuk akal di dalam dunia ini. Lihat Yohanes 6:60-71, banyak orang-orang yang kemudian meninggalkan Yesus karena realita ajaranNya yang keras.
Efesus 5:16
"dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."
> Jangan berpikir segala sesuatu (buruk) yang terjadi dalam kehidupan kita yang singkat disutradarai oleh Tuhan. Sesuatu bisa terjadi karena kehendak Tuhan atau ditetapkan Tuhan (God's decree) atau intervensi Tuhan atau hukum alam (natural law) yang Dia ciptakan atau kebebasan manusia (man's freewill) ataupun campur tangan iblis (satanic influence). Di dalam kehidupan kita yang penuh rintangan jangan sekali-kali kita berpikir seperti orang yang belum mengenal Tuhan. Rintangan-rintangan ada untuk menguji iman kita dan mengingatkan dan BUKAN untuk menjadi fokus kehidupan kita.
Apakah fokus doa kita masih sama dari tahun ke tahun? Bila ya, berarti kita dalam posisi berhenti dan tidak benar-benar sedang mengikut Dia. Bila kita benar-benar sedang mengikut Dia, Dia akan membawa kita masuk ke dalam suatu kebenaran yang sebelumnya kita tidak tahu.
Ada sebuah istilah Latin "Vox populi, vox dei" yang berarti "suara daripada masyarakat adalah suara Allah" apakah istilah ini benar? Apakah Tuhan yang menggerakan orang-orang untuk menyuarakan sesuatu atau suatu kejadian memang sudah terencana akan terjadi seperti demikian? Ini adalah gejala daripada kehidupan di dalam kronos. Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi karena banyak hal dan karena ratusan aspek yang kita tidak mengerti, namun bukan Tuhan dalangnya. Dia ijinkan sesuatu terjadi untuk membuka kesempatan bagi kita untuk mengenal Dia lebih dalam, untuk mengerti pikiranNya lebih sungguh dan untuk membangun relasi erat bersamaNya.
Berada dimanakah level iman kita? Apakah kita tetap mengikut Dia secara pribadi di dalam krisis? Benarkah kita memikul salib setiap hari?
Hanya orang-orang yang betul merespon undangan Tuhan tanpa prejudis, itulah orang-orang yang menerima anugerah keselamatanNya. Kepada orang-orang inilah Tuhan mengatakan untuk mengikut Dia. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang selalu penuh kenyamanan dan kesenangan, namun di tengah dunia yang berdosa Tuhan menjanjikan "Aku akan besertamu".
Ibrani 12:2
"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."
Berbahagialah kamu dan aku yang menerima undangan Tuhan untuk mengikutNya.
Soli Deo gloria.
Wednesday, February 1, 2017
Sunday Service: "Pertobatan: Permulaan Hidup yang Baru" - G.I. Yuzo Adhinata - 08012017
Markus 1:1-5,14-15
Yohanes 21:15-19
Meninggalkan kehidupan lama untuk mengikut Yesus tidak semudah meninggalkan 'jala', membutuhkan kekuatan yang bukan dari diri sendiri.
Paulus berkata dalam 2 korintus, perubahan yang baru sudah datang. Ketika Yesus mengatakan bertobatlah, Tuhan pun bermaksud kita mengalami perubahan sejati - true repentance.
Pertobatan antara Petrus dan Yudas, kedua-duanya dipanggil Tuhan dan keduanya adalah orang yang berdosa. Keduanya menyangkal Tuhan dalam caranya masing-masing. Keduanya menyesal dan menangis. Namun keduanya tidak mengalami pertobatan yang sama. Petrus mengalami pertobatan sejati, bukan untuk dan dari dirinya sendiri tapi ada Kristus didalamnya. Sedangkan Yudas tidak datang kepada Tuhan tetapi mengikuti kata hati diri sendiri. Yudas mengikuti emosi sendiri, bertanya kepada diri sendiri dan hanya mendengarkan diri sendiri.
“Every saint has a past, and every sinner has a future.”
― Oscar Wilde
Yudas tidak akan mempunyai masa depan karena dia tidak mempunyai perubahan yang substansial dalam hidupnya. Lantas perubahan apa yang diinginkan Tuhan? What is a true repentance?
Ciri dari pertobatan sejati:
- Perubahan yang nyata > tidak bersifat superficial! But from the roots! Menyangkal diri dan memikul Salib. Salib merupakan kebodohan bagi dunia, karena kita dianggap melepaskan kehidupan kita untuk suatu janji yang belum pasti atau kelihatan dengan mata. This change cannot be superficial but you must make your life revolves around Jesus, the focus of ur life must be HIM! Perubahan itu dari Dia, oleh Dia dan segala kemuliaan untuk Dia!
Pengikut Kristus tidak cukup menjadi seorang penggemar (fan). Walaupun seorang fan memiliki pengorbanannya sendiri (rela menunggu berjam-jam untuk idolanya) namun Tuhan datang untuk orang-orang yang mau mengalami perubahan seumur hidup bukan musiman. Pada saat krisis terjadi maka akan terlihat dimana posisi iman kita, mengikuti ego diri (sesuai kenyamanan dan keuntungan) atau menyangkal diri dan mengikut Kristus?
Perubahan sejati mencakup perubahan yang radikal. Yang tadinya forgiving sama dosa, jadi membenci dosa.
“For true conversion doth not consist in putting away great and outward sins only, but in descending deeply into your own self, searching into the inmost recesses of the heart, the secrets and closets, all the windings and turnings thereof; changing and renewing them throughout, with the grace that is given you: and so, by faith, you are converted from self-love to Divine love; from the world and all worldly concupiscences, to a spiritual and heavenly life; and from a participation of the pomps and pleasures thereof, to participating the merits and virtues of Christ, by believing his word, and walking in his steps.”
Perubahan itu tidak hanya ditandai dari kita menghindari dosa-dosa, apabila kita hanya perlu berhenti melakukan dosa maka Kristus tidak perlu datang ke dunia. Tapi perubahan itu harus mencapai jiwa dan roh kita. Perubahan dari dalam dimana kita semakin mencintai Tuhan dan hal-hal yang Dia cintai.
Ketika kita bertobat Tuhan ingin kita memilih diri kita atau Tuhan. Seorang penggemar tidak memiliki pusat kehidupan kepada Tuhan namun untuk kesenangan diri.
- pertobatan harus dari seluruh aspek kehidupan. Mengubah cara kita berpikir. Kita bukan hanya sadar yang kita lakukan itu salah dan dosa namun kita mau bangun dan berubah. Tuhan menyediakan pengampunan tapi apakah kita mau menjadi seperti Petrus yang menerima tangan Tuhan yang terulur atau kita hanya terpaku dengan pemikiran diri sendiri bahwa pendosa seperti kita tidak mungkin terselamatkan seperti Yudas?
Peran kasih dalam pertobatan, bukan hanya sentimental romantisme, kasih juga kita ketahui, kita rasakan , dan dapat memotivasi kita. Tujuan Tuhan datang kepada kita bukan untuk membinasakan tapi menyelamatkan kita, out of His great love. Tuhanlah yang mengasihi kita terlebih dulu. Ketika kita jatuh dalam dosa yang sama berulang kali, Tuhan tidak menghakimi kita dan mengatakan strategi kita melawan dosa kurang baik. Tapi Tuhan akan bertanya dan mengingatkan kita "do you love me?"
- pertobatan tidak instan! Bukan hanya sekali jadi. Petrus menyangkal Tuhan 3x dan Tuhan merestorasinya 3x. Apabila kita mau bertobat dan kembali kepada Tuhan seperti Petrus, sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi, Tuhan akan menghapusnya hingga putih seperti salju. Namun ini bukan ijin untuk kita bisa berbuat dosa seenaknya. When we love Him, we have to understand how much God hates sin. Kita tidak mungkin melakukan sesuatu yang dibenci oleh orang yang kita kasihi bukan?
Come to God, confess what sins you have done, ask God to change you and take control of your life, but in order for God to take the wheel, we need submit to His sovereignity. There must be no doubt when giving Him the control, but this is an action easier said than done because selfishness and arrogance are in our nature. This is why we need to rely solely in His power and never in ours! Remember, the moment we feel strong is actually our moment of weakness! We have to keep our ego in check. Do a reality check on our faith daily.
Mazmur 139:23-24
"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"
Evil will take any moment of weakness that we have to return us to sin.
1 Petrus 5:8
"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."
Sunday Service: "Define The Relationship" - Pdt. Tommy Elim - 01012017
Banyak orang Kristen yang kekristenannya berupa pribadi dan tidak dibagikan ke orang lain. Apabila saat ini kita masih hidup di dunia ini, maka tugas kita adalah untuk menyatakan iman kita ditengah-tengah lingkungan kita.
Discipleship > sungguh-sungguh menjadi murid yang menyatakan iman ditengah dunia ini
Harus menjadi Kristen yang seperti apakah kita?
Orang Kristen yang bukan sekedar menjadi penggemar Kristus.
Imitate how Christ worked with His disciples
Seberapa serius kah kita menjadi pengikut Kristus? Seberapa mau kita dibentuk oleh Tuhan?
Yohanes 6:22-27 & 41-42 & 60-61 & 66-69
Keunikan Yohanes 6:
- Satu-satunya Injil dari ke-empat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) yang mencatat kejadian tersebut.
- Mujizat lain menunjukan kuasa Yesus namun mujizat ini menunjukan pribadi Yesus sendiri sebagai Roti Hidup bagi manusia
- bagaimana respon terhadap Kristus Roti Hidup itu? Ada orang banyak yang melihat. Orang-orang Yahudi, murid-murid: Filipus, Petrus, Andreas, Yudas (ada dinamika dalam respon orang-orang)
- Merosotnya popularitas umum Yesus dan munculnya iman perorangan. Yesus datang bukan agar dirinya menjadi terkenal, didalam ayat-ayat tersebut Yesus ingin melihat apa betul orang ingin mengikut Yesus dengan iman yang sejati.
- Issue DTR - Yesus ingin melakukan penyaringan apakah betul orang-orang ingin mengenal Dia. Mendefinisikan hubungan. Kristus ingin tahu apakah kita mengikuti Dia tanpa ikatan? (Only for the benefits) Seberapa serius komitmen kita dalam mengikuti Dia?
Fan v.s. follower:
Kita semua pasti ingin hidup yang lancar dan sukses, namun berhati-hatilah karena Tuhan tidak ingin kita menjadi sekedar pengikut kemakmuran, karena itu berarti kita tidak mempunyai ikatan khusus dengan Tuhan.
Followers mulai berusaha menjadi orang yang hidup lebih benar dan berkomitmen demi mengikut panutannya. Namun langkah serius tidak hanya sampai disini,
Seorang disciple akan berusaha dengan seluruh hidupnya. Mengerahkan seluruh tenaganya. Inilah iman yang sejati dan tidak semua orang mau melakukan ini. Bahkan murid-murid Yesus pun ada yang meninggalkan Dia. Disinilah ujian yang terpenting dalam kehidupan seorang Kristen. Ketika dihadapkan kepada tuntutan-tuntutan Kristus yg lebih serius dan bertolak belakang dengan keinginan dunia dan daging yang terlihat jauh lebih nyaman. Apabila kita tidak berusaha sekuat mungkin untuk memenangkan pertandingan Iman itu maka kita hanya berada di kategori follower.
Seorang disciple akan berusaha dengan seluruh hidupnya. Mengerahkan seluruh tenaganya. Inilah iman yang sejati dan tidak semua orang mau melakukan ini. Bahkan murid-murid Yesus pun ada yang meninggalkan Dia. Disinilah ujian yang terpenting dalam kehidupan seorang Kristen. Ketika dihadapkan kepada tuntutan-tuntutan Kristus yg lebih serius dan bertolak belakang dengan keinginan dunia dan daging yang terlihat jauh lebih nyaman. Apabila kita tidak berusaha sekuat mungkin untuk memenangkan pertandingan Iman itu maka kita hanya berada di kategori follower.
Seorang murid bukanlah orang yang murni suci tapi dia tahu dosanya dan dia terus berjuang untuk melawan dosa itu walaupun ada jatuh dan bangun. Namun langkah itu tidak sampai disini saja,
Discipleship mendarah daging dalam hidupnya. Mati atau hidup tidak masalah, bahkan baginya mati adalah sebuah keuntungan! prioritas kehidupannya adalah pemuridan dan membagikan tentang Kristus (by words and actions). Ketika kita sudah mengalami proses discipleship yang mendarah daging maka secara langsung kita akan mau memberitakan, disciple maker.
Dimana kriteria kita dalam mengikut Kristus? Tahun baru ini, apa terget kita?
Benarkah kita mau benar-benar mendorong diri kita untuk menjadi seorang disciple?
Filipus dan andreas adalah murid-murid. Keduanya mempunyai karakter yang berbeda, namun mereka berdua berusaha, berbeda dengan Yudas yang nantinya menjual Kristus.
Filipus dan andreas adalah murid-murid. Keduanya mempunyai karakter yang berbeda, namun mereka berdua berusaha, berbeda dengan Yudas yang nantinya menjual Kristus.
Kisah Demas adalah sebuah peringatan dimana posisi kita sebagai murid, apakah kita menjadi murid yang sejati? Sudahkah kita menyerahkan diri sepenuhnya? Yudas memang kasus yang ekstrim yang tidak relatable, namun demas perlahan-perlahan kehilangan imannya dengan mencintai dunia dan kedagingannya.
Rajin ke gereja tanpa mengawasi our deceitful heart setiap harinya merupakan kesia-siaan. Selidiki diri dan lingkupi diri dengan firmanNya (karena daging kita lemah, hanya karena AnugerahNya saja kita bisa berjalan bersama Tuhan), jika lengah maka kita akan pasti berada di jalan yang sama dengan Demas. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa main-main, we have to be radical when it comes to following Christ.
Jangan bermain-main dengan waktu dan kehidupan yang Tuhan masih berikan. Dedikasikan hidupmu, dengan anugerah Tuhan dan berkomitmen untuk bersungguh-sungguh menjadi murid yg sejati.
Tuesday, January 31, 2017
Christmas Celebration: "I Am The Light" - Pdt. Rahmiati Tanudjaja - 25122016
Yohanes 1
> Tuhan Yesus telah datang ke tengah-tengah manusia. Dia
Ayat 5: "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."
Ayat 9-12: "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;"
Kenapa Ia sudah datang kepada kepunyaanNya tetapi mereka tidak mengenal dan menerimaNya?
Sangat jelas alasannya adalah karena arah fokus hidup mereka masih kepada dirinya sendiri. Seluruh kehidupan mereka adalah tentang mereka dan memanfaatkan dunia untuk memenuhi kebutuhan. Mereka pun memanfaatkan Tuhan sebagai sarana pemenuh kebutuhan. Sedangkan Tuhan Yesus datang untuk mengembalikan arah yang salah tersebut dari fokus kepada "saya" kembali menjadi kepada "Tuhan". Itulah kenapa mereka tidak bisa melihat maksud dan tujuan kedatangan Kristus, karena mereka tidak hidup untuk Tuhan.
Yohanes 3:3
"Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.""
> Bila seseorang tidak lahir baru maka ia tidak akan mengerti maksud kedatangan Yesus.
Seseorang dapat lahir baru dan melihat Terang yang sesungguhnya hanya karena anugerah Tuhan.
Lukas 14 mengatakan undangan Raja adalah bagi semua orang karena semua orang sebetulnya membutuhkan pemulihan. Ketika kita bandingkan dengan Matius 22, pada saat undangan diberikan untuk semua orang, tidak berarti sembarangan orang bisa masuk. Semua yang masuk harus mengikuti peraturan Empunya pesta tersebut.
Dalam realita kehidupan, ada tamu-tamu pesta yang melanggar aturan pesta walaupun tidak akan dikenakan hukuman. Namun pesta yang dibicarakan di Alkitab adalah pestaNya dan Tuhan tidak akan menerima tamu yang sembarangan. Di dalam Tuhan tidak ada suam-suam kuku.
Lukas 14:26 & 27
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku."
> Ini adalah password masuk ke pesta tersebut. Kita tidak boleh bermain-main dengan ini. Kata "benci" disini bukan berarti kita tidak memperhatikan atau mengasihi orang-orang itu. Musuh saja harus kita kasihi, terlebih lagi keluarga kita. Tetapi ini berbicara tentang siapa yang harus bertahta di hati dan menjadi fokus kita. Tidak boleh ada yang melebihi posisi Tuhan dan mengendalikan hati kita melebihiNya.
Matius 11:28-30
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
> Ketika kita sudah sungguh-sungguh membiarkan Tuhan yang memegang kendali di hati maka secara alamiah kita akan memikul salib dan menyangkal diri. Inilah yang pas dengan status kita sebagai anak Tuhan dan kita paham memang seharusnya begitu.
Yohanes 15:1-8
> Dengan jelas dikatakan bahwa kalau memang kita betul menjadi ranting yang melekat dengan Pokok Anggur, berarti kita sedang hidup dan mati bagi Tuhan dan kita pasti berbuah. Ranting yang berbuah yang terus dibersihkan. Ranting yang hanya terlihat melekat namun tidak memiliki relasi akan dibuang.
Apakah yang sebenarnya dibicarakan perumpamaan tentang pesta besar dimana yang sudah masuk ada yang ditolak oleh Tuhan? Orang Kristen atau anak Tuhan, pasti datang beribadah kepada Tuhan dengan datang ke gereja, tapi orang yang ke gereja belum tentu anak Tuhan.
Yohanes 10:27-29
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa."
> Domba merasa tenang dan nyaman ketika mendengar suara gembalanya dan terus mengikutinya. Seharusnya kita pun demikian ketika mendengar suara Tuhan. Tapi kita seringnya terbalik, nyaman mendengar suara dunia dan terusik bila mendengar suara Tuhan.
Bagaimana dengan kita yang mengaku anak Tuhan? Apakah datang ke hadirat Tuhan dan mendengar suaraNya sudah menjadi segalanya bagi kita?
Roma 8
Yohanes 10:28
"dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku."
> Tidak ada siapapun dan apapun juga dapat merebut anak-anak Tuhan dari kasihNya.
Apakah hanya dengan menerima Yesus tanpa hidup untukNya kita tetap akan masuk Surga?
Ini adalah pertandingan yang Paulus bicarakan untuk anak-anak Tuhan dengan garis finish yang jelas. Tidak mungkin kita bertujuan ke Surga apabila kita hidup dengan arah yang terbalik, karena itu Tuhan Yesus mengatakan untuk memakai kuk yang Dia pasang dan belajar padaNya. Sebagai anak Tuhan kita harus seperti ranting yang siap 'dibersihkan' agar kita dapat berbuah, bukan untuk pujian kepada diri sendiri, tapi agar Bapa dipermuliakan.
Kehidupan seperti apakah yang Tuhan kehendaki?
Matius 2
> Bintang itu muncul pada Yesus lahir, dan orang-orang majus ahli perbintanganlah yang melihat terang itu. Mereka ahli yang tidak melewatkan tanda Tuhan untuk manusia. Ketika Tuhan menyentuh mereka melalui bintang tersebut, mereka tidak menganggapnya sebagai bintang biasa. Ada banyak cara Tuhan menyentuh hidup orang untuk kembali ke jalan-Nya. Di tengah-tengah dunia yang menawarkan jalan yang sepertinya benar dan nyaman, maukah kita menyangkal diri dan mengikuti jalan-Nya yang dipenuhi tantangan?
Orang-orang majus yang dipenuhi karisma dan dikenal tahu mana yang menjadi prioritas fokus kehidupan. Mereka tidak mencari popularitas atau pengakuan dari orang lain. Hati mereka hanya memiliki satu tujuan, untuk mengenal Anak itu dan menyembahNya. Walaupun mereka tahu Dia saat itu hanyalah Seorang Anak kecil, tapi iman mereka objektif. Iman yang didasarkan relasi dengan Tuhan, bukan karena mereka menginginkan sesuatu untuk keperluan pribadi. Orang majus tidak berhenti menyembah pada waktu bertemu Tuhan Yesus, pada waktu mereka meninggalkan Anak itu, hati mereka tetap menyembah. Kenapa mereka lebih taat kepada seorang Anak dibanding kepada seorang raja Herodes? Mereka terus hadir di hadapan Allah di dalam kehidupan keseharian mereka.
Mesias adalah Immanuel yang berarti Tuhan beserta kita, maka berperilakulah seperti orang yang sedang disertai Tuhan. Percaya akan pemeliharaanNya di dalam perjalanan menuju kekekalan bersama Tuhan. Apapun yang Tuhan ijinkan terjadi, pastikan Tuhan melihat di hati kita hanya ada Dia.
> Tuhan Yesus telah datang ke tengah-tengah manusia. Dia
Ayat 5: "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."
Ayat 9-12: "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;"
Kenapa Ia sudah datang kepada kepunyaanNya tetapi mereka tidak mengenal dan menerimaNya?
Sangat jelas alasannya adalah karena arah fokus hidup mereka masih kepada dirinya sendiri. Seluruh kehidupan mereka adalah tentang mereka dan memanfaatkan dunia untuk memenuhi kebutuhan. Mereka pun memanfaatkan Tuhan sebagai sarana pemenuh kebutuhan. Sedangkan Tuhan Yesus datang untuk mengembalikan arah yang salah tersebut dari fokus kepada "saya" kembali menjadi kepada "Tuhan". Itulah kenapa mereka tidak bisa melihat maksud dan tujuan kedatangan Kristus, karena mereka tidak hidup untuk Tuhan.
Yohanes 3:3
"Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.""
> Bila seseorang tidak lahir baru maka ia tidak akan mengerti maksud kedatangan Yesus.
Seseorang dapat lahir baru dan melihat Terang yang sesungguhnya hanya karena anugerah Tuhan.
Lukas 14 mengatakan undangan Raja adalah bagi semua orang karena semua orang sebetulnya membutuhkan pemulihan. Ketika kita bandingkan dengan Matius 22, pada saat undangan diberikan untuk semua orang, tidak berarti sembarangan orang bisa masuk. Semua yang masuk harus mengikuti peraturan Empunya pesta tersebut.
Dalam realita kehidupan, ada tamu-tamu pesta yang melanggar aturan pesta walaupun tidak akan dikenakan hukuman. Namun pesta yang dibicarakan di Alkitab adalah pestaNya dan Tuhan tidak akan menerima tamu yang sembarangan. Di dalam Tuhan tidak ada suam-suam kuku.
Lukas 14:26 & 27
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku."
> Ini adalah password masuk ke pesta tersebut. Kita tidak boleh bermain-main dengan ini. Kata "benci" disini bukan berarti kita tidak memperhatikan atau mengasihi orang-orang itu. Musuh saja harus kita kasihi, terlebih lagi keluarga kita. Tetapi ini berbicara tentang siapa yang harus bertahta di hati dan menjadi fokus kita. Tidak boleh ada yang melebihi posisi Tuhan dan mengendalikan hati kita melebihiNya.
Matius 11:28-30
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
> Ketika kita sudah sungguh-sungguh membiarkan Tuhan yang memegang kendali di hati maka secara alamiah kita akan memikul salib dan menyangkal diri. Inilah yang pas dengan status kita sebagai anak Tuhan dan kita paham memang seharusnya begitu.
Yohanes 15:1-8
> Dengan jelas dikatakan bahwa kalau memang kita betul menjadi ranting yang melekat dengan Pokok Anggur, berarti kita sedang hidup dan mati bagi Tuhan dan kita pasti berbuah. Ranting yang berbuah yang terus dibersihkan. Ranting yang hanya terlihat melekat namun tidak memiliki relasi akan dibuang.
Apakah yang sebenarnya dibicarakan perumpamaan tentang pesta besar dimana yang sudah masuk ada yang ditolak oleh Tuhan? Orang Kristen atau anak Tuhan, pasti datang beribadah kepada Tuhan dengan datang ke gereja, tapi orang yang ke gereja belum tentu anak Tuhan.
Yohanes 10:27-29
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa."
> Domba merasa tenang dan nyaman ketika mendengar suara gembalanya dan terus mengikutinya. Seharusnya kita pun demikian ketika mendengar suara Tuhan. Tapi kita seringnya terbalik, nyaman mendengar suara dunia dan terusik bila mendengar suara Tuhan.
Bagaimana dengan kita yang mengaku anak Tuhan? Apakah datang ke hadirat Tuhan dan mendengar suaraNya sudah menjadi segalanya bagi kita?
Roma 8
Yohanes 10:28
"dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku."
> Tidak ada siapapun dan apapun juga dapat merebut anak-anak Tuhan dari kasihNya.
Apakah hanya dengan menerima Yesus tanpa hidup untukNya kita tetap akan masuk Surga?
Ini adalah pertandingan yang Paulus bicarakan untuk anak-anak Tuhan dengan garis finish yang jelas. Tidak mungkin kita bertujuan ke Surga apabila kita hidup dengan arah yang terbalik, karena itu Tuhan Yesus mengatakan untuk memakai kuk yang Dia pasang dan belajar padaNya. Sebagai anak Tuhan kita harus seperti ranting yang siap 'dibersihkan' agar kita dapat berbuah, bukan untuk pujian kepada diri sendiri, tapi agar Bapa dipermuliakan.
Kehidupan seperti apakah yang Tuhan kehendaki?
Matius 2
> Bintang itu muncul pada Yesus lahir, dan orang-orang majus ahli perbintanganlah yang melihat terang itu. Mereka ahli yang tidak melewatkan tanda Tuhan untuk manusia. Ketika Tuhan menyentuh mereka melalui bintang tersebut, mereka tidak menganggapnya sebagai bintang biasa. Ada banyak cara Tuhan menyentuh hidup orang untuk kembali ke jalan-Nya. Di tengah-tengah dunia yang menawarkan jalan yang sepertinya benar dan nyaman, maukah kita menyangkal diri dan mengikuti jalan-Nya yang dipenuhi tantangan?
Orang-orang majus yang dipenuhi karisma dan dikenal tahu mana yang menjadi prioritas fokus kehidupan. Mereka tidak mencari popularitas atau pengakuan dari orang lain. Hati mereka hanya memiliki satu tujuan, untuk mengenal Anak itu dan menyembahNya. Walaupun mereka tahu Dia saat itu hanyalah Seorang Anak kecil, tapi iman mereka objektif. Iman yang didasarkan relasi dengan Tuhan, bukan karena mereka menginginkan sesuatu untuk keperluan pribadi. Orang majus tidak berhenti menyembah pada waktu bertemu Tuhan Yesus, pada waktu mereka meninggalkan Anak itu, hati mereka tetap menyembah. Kenapa mereka lebih taat kepada seorang Anak dibanding kepada seorang raja Herodes? Mereka terus hadir di hadapan Allah di dalam kehidupan keseharian mereka.
Mesias adalah Immanuel yang berarti Tuhan beserta kita, maka berperilakulah seperti orang yang sedang disertai Tuhan. Percaya akan pemeliharaanNya di dalam perjalanan menuju kekekalan bersama Tuhan. Apapun yang Tuhan ijinkan terjadi, pastikan Tuhan melihat di hati kita hanya ada Dia.
Christmas Celebration: "I See The Light" - Pdt. Rahmiati Tanudjaja - 24122016
Yohanes 8:12
"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
Kalau kita berbicara tentang "saya melihat terang", di dalam kehidupan kita sehari-hari pada saat dikatakan "saya melihat terang" maka kaitan antara saya dan terang sangat erat sekali. Ke-eratan antara situasi atau kondisi saya dengan terang itu dan tentang makna dari terang itu.
Contoh:
Apabila saat ini kita sedang sakit parah dan nampaknya tidak ada harapan, maka terang yang kita maknai itu menjadi terang yang seperti apakah? Apakah kita memaknai terang apabila ada kesehatan disana? Ada pengharapan bahwa saya bisa sehat lagi. Maka dalam situasi seperti ini kita hanya bisa melihat terang kalau ada pengharapan untuk sehat.
Dalam kondisi perekonomian ataupun dalam studi kita, maka makna dari terang itu kita maknai sesuai dengan keadaan kita. Dimana ada pengharapan yang membereskan masalah kita, disitulah kita melihat 'terang'.
Tapi apakah Firman Tuhan berkaitan dengan terang itu?
Yesaya 9:1
"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar."
> Terang macam apa yang dimaksudkan disini? Apa maksud dari mereka berada dalam kondisi yang dikatakan berjalan dalam kegelapan?
Yesaya 9:5
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."
Bandingkan juga dengan, Efesus 5:8-10
"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
Jelas secara situasi dan di kondisi yang Tuhan bicarakan tentang manusia yang dikaitkan dengan Tuhan Yesus sebagai terang adalah kondisi dimana manusia berada di dalam kegelapan. Bukan berbicara tentang soal penyakit, perekonomian, studi atau karir yang sulit. Sikon yang dibicarakan bukan dalam konteks kegelapan dalam hal-hal tersebut. Terang yang dikatakan bukan tentang solusi dari permasalahan dalam kehidupan manusia ataupun kenyamanan yang dialami secara fisik. Tetapi terang yang dikaitkan dengan kehidupan yang kekal, kekudusan.
Dari sini berarti kita harus memahami apa yang dimaksudkan dengan "berada dalam kegelapan", dan apa maksudnya dari Firman Tuhan yang mengatakan Tuhan Yesus adalah terang. Terang yang bagaimana? Menerangi apa dalam kehidupan saya?
Didalam kegelapan kita diperhadapkan dengan sikon dimana kita harus melihat ada yang bersifat sementara dan ada yang kekal. Dan ini merupakan perbandingan satu (akan berakhir) dibanding tak terhingga. Apabila kita berbicara tentang satu dibanding infinity, maka kita akan melihat yang sementara itu tidak akan ada nilainya. Apabila kita diberi kesempatan memilih untuk berjuang, antara kedua sikon tersebut, perjuangan mana yang akan kita pilih? Seharusnya dengan pikiran sehat, kita akan memilih perjuangan yang bernilai kekal. Namun benarkah perjuangan itu terjadi didalam kehidupan kita?
Bukan berarti kita tidak boleh merasa berduka atau sedih ketika kita kehilangan sesuatu atau seseorang, tetapi melalui terang Kristus kita bisa melihat melampaui 'kegelapan' kedukaan kita dan melihat ada yang jauh lebih penting yang harus diperjuangkan. Kenapa Kristus begitu penting? Kenapa harus terang Kristus? Kita harus tau posisi kita di hadapan Tuhan.
Yohanes 3:18
"Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."
> Semua manusia, apabila tidak percaya telah berada di bawah murka Allah, bukan nanti atau di masa depan.
Pada saat manusia diciptakan, kita diciptakan dengan satu tujuan yang jelas.
Kolose 1:16
"karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia."
> Kita diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Artinya seluruh hidup kita didedikasikan hanya untuk menyenangkan Tuhan. Sebagai Pencipta, Dia adalah Tuan dan Pemilik saya. Segala sesuatu yang saya lakukan dalam hidup harus dipersembahkan kepada Dia dan dipastikan harus membuat Dia senang. Dengan kata lain, apapun kerja keras kita, yang dipuji dan dimuliakan haruslah Tuhan.
Pernahkah kita berpikir, kenapa Tuhan menciptakan kita seperti itu?
"Kok enak ya, kita yang setengah mati, Tuhan yang dipuji-puji?"
Pernahkah kita merasa senang dan pantas ketika kita dipuji untuk pekerjaan kita?
Ingatlah bahwa semua diciptakan dan berasal dari Tuhan dan milik Tuhan. Maka dari itu segala kemuliaan harus kembali kepada Tuhan. Semua bisa terjadi hanya karena Tuhan.
Manusia memiliki hati yang fokus kepada dirinya sendiri. Awal kejatuhan manusia dalam dosa adalah keinginan menjadi fokus perhatian. Arah hidup manusia yang seharusnya vertikal ke atas, tentang TUHAN, berbalik menjadi vertikal ke bawah, tentang SAYA. Kita cenderung menjalankan hidup dengan pemahaman, dari saya - oleh saya -dan- kepada saya. Semakin dekat ke saya, semakin menguntungkan saya, semakin kita perjuangkan habis-habisan. Tapi ketika semakin jauh dari saya, semakin tidak ada urusan dengan saya, maka semakin saya tidak mau perjuangkan. Ini adalah mentalitas kejatuhan manusia (kita).
Berdasarkan Firman Tuhan status kita sebagai orang berdosa adalah kegelapan. Jangan berpikir dosa itu hanya ketika kita membunuh atau mencuri, dan menolong orang berarti kita berada dalam terang. Di Alkitab dikatakan ada seorang muda dengan moral yang sangat baik, namun di mata Tuhan tidak ada seorangpun yang baik (Roma 3). Karena anak muda tersebut melakukan segala hal yang baik pun dengan tujuan yang salah, dari saya - oleh saya - kepada saya.Walaupun tidak pamrih kepada manusia lain namun manusia akan selalu meminta pahala daripada Tuhan dan kembali lagi untuk 'saya'. Segala sesuatu yang dilakukan dengan arah kepada diri sendiri, tetap akan menjadi dosa.
Matius 5:20
"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
> Ada apa dengan orang Farisi dan ahli Taurat? Bukankah mereka mengenal Alkitab dan berusaha melakukan hukum-hukumnya dengan betul-betul? Mereka saja tidak masuk Surga apalagi kita? Tuhan Yesus mengatakan mereka melakukan semua itu arahannya ke diri mereka sendiri, agar terlihat baik di mata orang.
Pola pikir kita yang masih berdosa dan belum diselamatkan adalah pola pikir U.U.S. - Ujung-Ujungnya Saya. Semua orang berlomba-lomba ingin menjadi pusat perhatian. Dan ini menjadi akar dari pola pikir U.U.D. - Ujung-Ujungnya Duit, karena kita membutuhkan modal untuk U.U.S. . Dengan mental U.U.D. tersebut ketika kita ditawarkan keselamatan Kristus yang 'gratis', tentu langsung kita ambil. Kita tidak perlu berbuat apa-apa dan semua sudah ditanggung Tuhan Yesus, sehingga kita bisa bebas. Percaya dan kita langsung masuk Surga. Maka perjalanan hidup kita yang dipenuhi tantangan tentu tertarik bila ditawarkan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Yesus. Dan ketika kita menerima Yesus, Ujung-ujungnya Minta, U.U.M..
Kita datang kepada Tuhan Yesus dengan tujuan meminta. Ribuan orang datang dan mencari Tuhan bukan karena ingin dekat dengan Tuhan atau karena melihat terang pada Yesus, namun karena mujizat-mujizat Kristus (membagikan roti, menyembuhkan penyakit). Disitulah posisi iman kita. Yang kita cari bukanlah Tuhan namun kenyamanan saya.
2 Korintus 5:15-17
"Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."
> Untuk apa tujuan Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini? Dia telah menanggung murka Allah untuk kita, sehingga kita tidak perlu dihukum lagi bila percaya. Itu betul adalah anugerah semata-mata. Namun keselamatan itu ada tujuannya, agar orang yang sudah percaya dipulihkan agar kembali kepada Allah.
Karena apabila kita menilai manusia berdasarkan U.U.S. (apa yang dia punya, capai) tetapi dengan terang Kristus, kita bisa melihat bahwa manusia tidak dinilai dari sudut itu. Di hadapan Tuhan kita dilihat apakah kita berfungsi sebagai gambar Allah, yaitu hidup dan mati bagi Dia. Tuhan tidak berhutang kepada siapapun karena semua adalah milikNya, maka seharusnya apabila kita sudah bertemu Kristus, maka kita tidak lagi menilai diri kita sendiri dengan ukuran manusia. Dan kitapun berhenti menilai Kristus dengan ukuran manusia. Kita tidak lagi melihat Tuhan sebagai tempat untuk U.U.M.. Kita tidak lagi datang kepada Tuhan apabila ada perlu, tetapi melihat Kristus sebagai segala-galanya untuk kita. Semua yang sementara yang tadinya kita anggap bernilai sudah tidak ada nilainya lagi, tapi Kristus adalah selama-lamanya dan Dialah yang harus saya perjuangkan dan pertahankan habis-habisan.
Ketika kita berdoa, berbicara dan bersekutu dengan Tuhan, lalu ada telepon berdering atau bergetar, akankah kita menerima telepon tersebut? Manakah yang kita terima, yang sementara atau yang Kekal? Tahukah kita mana yang urgent? Waktu Tuhan tidak bisa disamakan dengan waktu kita. Apabila kita dipanggilNya ketika kita sedang berjerih lelah dengan fokus yang salah, kita akan dinilai dengan standard kehidupan yang di dunia, dari semua kesibukan yang kita lakukan saat ini yang Tuhan hanya perhatikan hanyalah hati, relasi kita dengan Tuhan. Dimanakah kita berada di hadapan Tuhan?
1 Korintus 15:58
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."
> Ini bukan membicarakan jerih lelah yang berarah ke diri sendiri. Perjuangan yang berarah untuk diri sendiri tidak ada nilainya dibandingkan pengenalan akan Kristus.
Sudahkah kita melihat terang yang seharusnya kita lihat, melihat Tuhan dan sadar bahwa kita sudah jatuh dan menolak Dia menjadi pemilik kita. Kita sudah menolakNya sebagai Tuhan dan pencipta kita dan kita berada didalam kegelapan karena kita sudah berdosa dan hidup untuk diri kita sendiri. Kita harus melihatNya sebagai terang yang akan merubah kehidupan kita, seperti yang dikatakan Paulus.
Galatia 2:20
"namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."
> Walaupun hidup bisa saja berakhir kapanpun yang Tuhan mau, sebagai orang percaya kita tahu kita akan terus bersama Terang itu. Sekarang kita bersama Tuhan dan selama-lamanya akan bersamaNya dimanapun, itulah Terang Kristus. Itulah tujuan Tuhan datang ke dalam dunia ini. Immanuel - Tuhan beserta kita.
Apakah sungguh Tuhan sedang beserta kita? Pada saat Tuhan melihat hati kita, apakah penuh terisi dengan Tuhan atau masihkah dipenuhi hal-hal lainnya?
"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
Kalau kita berbicara tentang "saya melihat terang", di dalam kehidupan kita sehari-hari pada saat dikatakan "saya melihat terang" maka kaitan antara saya dan terang sangat erat sekali. Ke-eratan antara situasi atau kondisi saya dengan terang itu dan tentang makna dari terang itu.
Contoh:
Apabila saat ini kita sedang sakit parah dan nampaknya tidak ada harapan, maka terang yang kita maknai itu menjadi terang yang seperti apakah? Apakah kita memaknai terang apabila ada kesehatan disana? Ada pengharapan bahwa saya bisa sehat lagi. Maka dalam situasi seperti ini kita hanya bisa melihat terang kalau ada pengharapan untuk sehat.
Dalam kondisi perekonomian ataupun dalam studi kita, maka makna dari terang itu kita maknai sesuai dengan keadaan kita. Dimana ada pengharapan yang membereskan masalah kita, disitulah kita melihat 'terang'.
Tapi apakah Firman Tuhan berkaitan dengan terang itu?
Yesaya 9:1
"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar."
> Terang macam apa yang dimaksudkan disini? Apa maksud dari mereka berada dalam kondisi yang dikatakan berjalan dalam kegelapan?
Yesaya 9:5
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."
Bandingkan juga dengan, Efesus 5:8-10
"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
Jelas secara situasi dan di kondisi yang Tuhan bicarakan tentang manusia yang dikaitkan dengan Tuhan Yesus sebagai terang adalah kondisi dimana manusia berada di dalam kegelapan. Bukan berbicara tentang soal penyakit, perekonomian, studi atau karir yang sulit. Sikon yang dibicarakan bukan dalam konteks kegelapan dalam hal-hal tersebut. Terang yang dikatakan bukan tentang solusi dari permasalahan dalam kehidupan manusia ataupun kenyamanan yang dialami secara fisik. Tetapi terang yang dikaitkan dengan kehidupan yang kekal, kekudusan.
Dari sini berarti kita harus memahami apa yang dimaksudkan dengan "berada dalam kegelapan", dan apa maksudnya dari Firman Tuhan yang mengatakan Tuhan Yesus adalah terang. Terang yang bagaimana? Menerangi apa dalam kehidupan saya?
Didalam kegelapan kita diperhadapkan dengan sikon dimana kita harus melihat ada yang bersifat sementara dan ada yang kekal. Dan ini merupakan perbandingan satu (akan berakhir) dibanding tak terhingga. Apabila kita berbicara tentang satu dibanding infinity, maka kita akan melihat yang sementara itu tidak akan ada nilainya. Apabila kita diberi kesempatan memilih untuk berjuang, antara kedua sikon tersebut, perjuangan mana yang akan kita pilih? Seharusnya dengan pikiran sehat, kita akan memilih perjuangan yang bernilai kekal. Namun benarkah perjuangan itu terjadi didalam kehidupan kita?
Bukan berarti kita tidak boleh merasa berduka atau sedih ketika kita kehilangan sesuatu atau seseorang, tetapi melalui terang Kristus kita bisa melihat melampaui 'kegelapan' kedukaan kita dan melihat ada yang jauh lebih penting yang harus diperjuangkan. Kenapa Kristus begitu penting? Kenapa harus terang Kristus? Kita harus tau posisi kita di hadapan Tuhan.
Yohanes 3:18
"Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."
> Semua manusia, apabila tidak percaya telah berada di bawah murka Allah, bukan nanti atau di masa depan.
Pada saat manusia diciptakan, kita diciptakan dengan satu tujuan yang jelas.
Kolose 1:16
"karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia."
> Kita diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Artinya seluruh hidup kita didedikasikan hanya untuk menyenangkan Tuhan. Sebagai Pencipta, Dia adalah Tuan dan Pemilik saya. Segala sesuatu yang saya lakukan dalam hidup harus dipersembahkan kepada Dia dan dipastikan harus membuat Dia senang. Dengan kata lain, apapun kerja keras kita, yang dipuji dan dimuliakan haruslah Tuhan.
Pernahkah kita berpikir, kenapa Tuhan menciptakan kita seperti itu?
"Kok enak ya, kita yang setengah mati, Tuhan yang dipuji-puji?"
Pernahkah kita merasa senang dan pantas ketika kita dipuji untuk pekerjaan kita?
Ingatlah bahwa semua diciptakan dan berasal dari Tuhan dan milik Tuhan. Maka dari itu segala kemuliaan harus kembali kepada Tuhan. Semua bisa terjadi hanya karena Tuhan.
Manusia memiliki hati yang fokus kepada dirinya sendiri. Awal kejatuhan manusia dalam dosa adalah keinginan menjadi fokus perhatian. Arah hidup manusia yang seharusnya vertikal ke atas, tentang TUHAN, berbalik menjadi vertikal ke bawah, tentang SAYA. Kita cenderung menjalankan hidup dengan pemahaman, dari saya - oleh saya -dan- kepada saya. Semakin dekat ke saya, semakin menguntungkan saya, semakin kita perjuangkan habis-habisan. Tapi ketika semakin jauh dari saya, semakin tidak ada urusan dengan saya, maka semakin saya tidak mau perjuangkan. Ini adalah mentalitas kejatuhan manusia (kita).
Berdasarkan Firman Tuhan status kita sebagai orang berdosa adalah kegelapan. Jangan berpikir dosa itu hanya ketika kita membunuh atau mencuri, dan menolong orang berarti kita berada dalam terang. Di Alkitab dikatakan ada seorang muda dengan moral yang sangat baik, namun di mata Tuhan tidak ada seorangpun yang baik (Roma 3). Karena anak muda tersebut melakukan segala hal yang baik pun dengan tujuan yang salah, dari saya - oleh saya - kepada saya.Walaupun tidak pamrih kepada manusia lain namun manusia akan selalu meminta pahala daripada Tuhan dan kembali lagi untuk 'saya'. Segala sesuatu yang dilakukan dengan arah kepada diri sendiri, tetap akan menjadi dosa.
Matius 5:20
"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
> Ada apa dengan orang Farisi dan ahli Taurat? Bukankah mereka mengenal Alkitab dan berusaha melakukan hukum-hukumnya dengan betul-betul? Mereka saja tidak masuk Surga apalagi kita? Tuhan Yesus mengatakan mereka melakukan semua itu arahannya ke diri mereka sendiri, agar terlihat baik di mata orang.
Pola pikir kita yang masih berdosa dan belum diselamatkan adalah pola pikir U.U.S. - Ujung-Ujungnya Saya. Semua orang berlomba-lomba ingin menjadi pusat perhatian. Dan ini menjadi akar dari pola pikir U.U.D. - Ujung-Ujungnya Duit, karena kita membutuhkan modal untuk U.U.S. . Dengan mental U.U.D. tersebut ketika kita ditawarkan keselamatan Kristus yang 'gratis', tentu langsung kita ambil. Kita tidak perlu berbuat apa-apa dan semua sudah ditanggung Tuhan Yesus, sehingga kita bisa bebas. Percaya dan kita langsung masuk Surga. Maka perjalanan hidup kita yang dipenuhi tantangan tentu tertarik bila ditawarkan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Yesus. Dan ketika kita menerima Yesus, Ujung-ujungnya Minta, U.U.M..
Kita datang kepada Tuhan Yesus dengan tujuan meminta. Ribuan orang datang dan mencari Tuhan bukan karena ingin dekat dengan Tuhan atau karena melihat terang pada Yesus, namun karena mujizat-mujizat Kristus (membagikan roti, menyembuhkan penyakit). Disitulah posisi iman kita. Yang kita cari bukanlah Tuhan namun kenyamanan saya.
2 Korintus 5:15-17
"Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."
> Untuk apa tujuan Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini? Dia telah menanggung murka Allah untuk kita, sehingga kita tidak perlu dihukum lagi bila percaya. Itu betul adalah anugerah semata-mata. Namun keselamatan itu ada tujuannya, agar orang yang sudah percaya dipulihkan agar kembali kepada Allah.
Karena apabila kita menilai manusia berdasarkan U.U.S. (apa yang dia punya, capai) tetapi dengan terang Kristus, kita bisa melihat bahwa manusia tidak dinilai dari sudut itu. Di hadapan Tuhan kita dilihat apakah kita berfungsi sebagai gambar Allah, yaitu hidup dan mati bagi Dia. Tuhan tidak berhutang kepada siapapun karena semua adalah milikNya, maka seharusnya apabila kita sudah bertemu Kristus, maka kita tidak lagi menilai diri kita sendiri dengan ukuran manusia. Dan kitapun berhenti menilai Kristus dengan ukuran manusia. Kita tidak lagi melihat Tuhan sebagai tempat untuk U.U.M.. Kita tidak lagi datang kepada Tuhan apabila ada perlu, tetapi melihat Kristus sebagai segala-galanya untuk kita. Semua yang sementara yang tadinya kita anggap bernilai sudah tidak ada nilainya lagi, tapi Kristus adalah selama-lamanya dan Dialah yang harus saya perjuangkan dan pertahankan habis-habisan.
Ketika kita berdoa, berbicara dan bersekutu dengan Tuhan, lalu ada telepon berdering atau bergetar, akankah kita menerima telepon tersebut? Manakah yang kita terima, yang sementara atau yang Kekal? Tahukah kita mana yang urgent? Waktu Tuhan tidak bisa disamakan dengan waktu kita. Apabila kita dipanggilNya ketika kita sedang berjerih lelah dengan fokus yang salah, kita akan dinilai dengan standard kehidupan yang di dunia, dari semua kesibukan yang kita lakukan saat ini yang Tuhan hanya perhatikan hanyalah hati, relasi kita dengan Tuhan. Dimanakah kita berada di hadapan Tuhan?
1 Korintus 15:58
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."
> Ini bukan membicarakan jerih lelah yang berarah ke diri sendiri. Perjuangan yang berarah untuk diri sendiri tidak ada nilainya dibandingkan pengenalan akan Kristus.
Sudahkah kita melihat terang yang seharusnya kita lihat, melihat Tuhan dan sadar bahwa kita sudah jatuh dan menolak Dia menjadi pemilik kita. Kita sudah menolakNya sebagai Tuhan dan pencipta kita dan kita berada didalam kegelapan karena kita sudah berdosa dan hidup untuk diri kita sendiri. Kita harus melihatNya sebagai terang yang akan merubah kehidupan kita, seperti yang dikatakan Paulus.
Galatia 2:20
"namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."
> Walaupun hidup bisa saja berakhir kapanpun yang Tuhan mau, sebagai orang percaya kita tahu kita akan terus bersama Terang itu. Sekarang kita bersama Tuhan dan selama-lamanya akan bersamaNya dimanapun, itulah Terang Kristus. Itulah tujuan Tuhan datang ke dalam dunia ini. Immanuel - Tuhan beserta kita.
Apakah sungguh Tuhan sedang beserta kita? Pada saat Tuhan melihat hati kita, apakah penuh terisi dengan Tuhan atau masihkah dipenuhi hal-hal lainnya?
Subscribe to:
Posts (Atom)





